Sunday, May 5, 2013

Skala prioritas belajar - belajar mulai dari yang terpenting

Pada awal saya memulai homeschooling, saya sangat bersemangat mengumpulkan materi materi pembelajaran, bahan pembelajaran berbagai keterampilan untuk anak, mendownload berbagai konsep dan teori hal apa saja yang diperlukan untuk perkembangan anak, dan banyak lagi.

Seperti yang sudah diduga, akhirnya saya kebingungan dan kewalahan sendiri untuk menentukan metoda pembelajaran, skill apa yang harus diajarkan, keterampilan hidup apa yang harus dikenalkan, dan seterusnya.


skala-prioritas-belajar-anak
================================================

Baca artikel di bawah untuk informasi yang dalam dan dapat dipraktekkan:

Cara Mendidik Anak Paling Efektif - Berdasarkan pengalaman penulis

Bangun Kecerdasan Emosional dengan Komunikasi Yang Efektif

Contoh Kata-Kata Motivasi Dari Orang tua Untuk anak

Perhatian Untuk Orang-tua : Pintar Saja Tidak Cukup

Cara Mengajarkan Anak Pentingnya Mempunyai Cita-Cita

Kisah Nyata (Haru) : Doa Ayah Untuk Ananda

================================================

Pada akhirnya, setelah learning by doing, mencoba sana mencoba sini, akhirnya sampailah pada suatu kesimpulan (sebenarnya bukan kesimpulan, akan tetapi sementara ini saya akan jalani secara konsisten Insya Allah) bahwa ditengah banyaknya arus informasi, sementara waktu kita terbatas, maka kita harus mengambil sikap untuk belajar mulai dari yang terpenting. Para ahli menyebutnya skala prioritas belajar.


Lain visi lain pula skala prioritas belajarnya. Penyebab perbedaannya adalah pemakaian kaca mata dalam memandang visi. Jika kaca mata yang dipakai adalah kaca mata syar'i, Insya Allah akan mempunyai visi yang sama sehingga skala prioritas belajarnya pun sama.
Saya bukan ahli parenting, bukan expert di bidang pendidikan, akan tetapi saya berusaha menulis apa yang sudah saya dapat disini dan berusaha sekeras mungkin agar ilmu tersebut dipraktekkan. Langsung saja, jadi skala prioritas belajar untuk anak adalah:


- Menanamkan Tauhid kepada mereka. Mengapa ini penting? Jawabannya adalah karena hal ini adalah pondasi dalam kehidupan kita. Dengan mengerti hal ini dan mempraktikkannya, mereka akan tahu bahwa segala aktifitas kebaikan atau ibadah akan mendapat balasan yang baik jika niat atau motivasinya karena Allah Ta'ala dan ittiba kepada rasulullah. Jika mereka tertimpa kesulitan, mereka akan menerimanya dengan sabar karena mereka tahu itu adalah atas takdir Allah Ta'ala. Jika mereka berusaha dan berikhtiar, mereka akan selalu meminta pertolongan kepada Allah dan tidak menyandarkan hasil kepada usaha mereka semata. Jika mereka mendapatkan kemudahan dan kenikmatan, mereka tidak akan sombong karena itu adalah anugrah dari Allah. Dan seterusnya.


-Mengenalkan dan mempraktekkan akhlaq yang baik kepada mereka. Banyak akhlak yang bisa dikenalkan sejak dini, tidak akan habis jika disebut satu persatu pada tulisan ini seperti: yakin, tawakkal, sabar, berusaha dengan kuat terhadap hal yang bermanfaat, menjauhkan diri dari hal yang tidak bermanfaat, adab kepada orang tua, adab kepada adik dan kakak, adab menerima tamu dan bertamu, adab kepada guru, adab kepada hewan dan tumbuhan, dan seterusnya.


Saya yakin kita mempunyai cara favorit kita dalam mengenalkan adab ini, kalau saya lebih senang mengenalkan adab ini dengan story telling atau bercerita. Tentunya cerita yang sebenarnya dari kehidupan rasulullah, sahabat, tabi'in, 'ulama, atau orang shalih lainnya. Di akhir cerita biasanya saya bertanya,"hal apa yang bisa diambil pelajaran dari kisah ini?". Hal ini untuk merangsang pemikiran mereka dalam mengambil pelajaran.


-Menumbuhkan kecintaan terhadap ilmu. Mengapa ini penting? sebab jika mereka sudah mencintai ilmu, mereka akan mudah dan senang dalam menuntut ilmu dan enjoy terhadap kegiatan menuntut ilmu seperti membaca, menulis, menganalisa, mempraktekkan, mengajarkan, dan seterusnya.


Itu saja yang bisa saya tulis, ada banyak hal lain yang bisa diajarkan, seiring dengan berjalannya waktu, Insya Allah mereka akan belajar hal hal baru yang bermanfaat bagi dunia dan akhirat. Sebagai catatan, pendapat anda mungkin berbeda, mungkin anda mempunyai prioritas yang lain, silakan menerapkan hal tersebut.