Saturday, August 17, 2013

Apakah anak kita sudah merdeka?

pemuda merdeka berani dan tanggung jawab

Ungkapan pada gambar di atas, menginspirasi para orang tua untuk mengajarkan independence atau kemerdekaan atau kemandirian kepada anak. Anak yang tidak bergantung pada orang tuanya, anak yang berani serta percaya diri akan kemampuannya.


Kita dapat belajar dari salah satu sahabat tentang kepercayaan diri, keberanian, dan kemandirian. Adalah Usamah bin Zaid, seorang yang mempunyai kedudukan yang istimewa dimata Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Ibunya adalah Ummu Aiman sedangkan bapaknya adalah Zaid bin Haritsah. Simaklah kisah keberaniannya, dalam prang Uhud, beliau datang kepada Nabi, beliau ingin ikut serta, akan tetapi Nabi memulangkan beliau sehingga beliau pulang dengan kedua mata yang berlinang karena sedih tidak ikut serta berjuang bersama Nabi dan sahabatnya. Akhirnya Nabi mengizinkan beliau ikut serta dalam prang khandaq, usia beliau pada saat itu 15 tahun. Nabipun mempercayai beliau untuk memimpin pasukan melawan romawi padahal usia beliau belum genap dua puluh tahun dan ada banyak sahabat senior yang ikut serta.


Bagaimana melatih anak mempunyai personal independence atau terjemahan bebasnya kebebasan bertindak, kemandirian untuk melakukan sesuatu, kepercayaan diri dalam melakukan sesuatu?


Setelah membaca baca dari berbagai sumber, saya mendapatkan benang merahnya yaitu “give them the freedom to act” atau memberikan anak anak kita kebebasan untuk memilih dan bertindak. 


Contoh sederhana memberi mereka kebebasan bertindak agar dapat mengambil keputusan secara mandiri:


  • Dengan memberikan mereka pilihan dan konsekuensi pilihan. 

Contoh: “nak, sabtu ini kita pergi ke toko buku atau ke taman?” Kalau jawabannya lain dari keinginan kita, cobalah diskusi, misalnya,”oh kamu maunya ke taman, ya ummi setuju saja, mungkin kamu lebih tahu informasinya daripada ummi, sabtu ini ada kegiatan apa di taman? Nampaknya kamu semangat sekali pergi ke sana? …. Ohya sebagai informasi, sabtu ini ada buku yang kamu cari ternyata sedang diskon, apabila kita ke toko buku sabtu depan mungkin sudah tidak ada program diskon lagi”


Dengan adanya dialog di atas, kita jadi tahu alasan anak dalam mengambil keputusan, apapun keputusan yang diambil, setelah anak tahu konsekuensi akibat pilihannya, kita sebaiknya mendukung mereka. 


Dengan bertanya kepada mereka ketika membeli baju,”silakan nak, kamu mau baju warna apa” atau ketika masak,”nak kamu mau makan apa hari ini?”

Intinya jika hal hal yang dipilih  anak tidak membahayakan dirinya, maka kita seharusnya mendukung pilihan mereka. Agar mereka mempunyai kepercayaan diri dalam mengambil keputusan. 


  • Menghormati atau menghargai keputusan anak.
Jika kita sudah melatih mereka memilih dan mengambil keputusan, maka sebagai orang tua kita harus menghargai keputusan anak. Semakin terbiasa anak dalam mengambil keputusan dalam urusan yang kecil seperti memilih baju, memilih makanan, memilih tempat berkunjung, dan lain lain, diharapkan mereka akan terlatih dalam mengambil keputusan dalam hal yang besar disaat mereka dewasa nanti.


  • Beri mereka kesempatan untuk berekspresi.
Apa contohnya? Ketika anak kita sakit, dan kita pergi ke dokter. Biasanya sebagai orang tua, ketika ditanya dokter, kitalah yang mengungkapkan informasi mengenai sakitnya anak.  Yang harus dilatih adalah, beri kesempatan anak untuk memberitahukan apa yang sakit walaupun sedikit, misalnya ketika dokter tanya, kita langsung berkata ke anak kita, “ayo nak, kasih tahu dokter apanya yang sakit”. 


Walaupun hanya berucap,”ini dokter, perut saya sakit yang di sebelah kiri”, yang penting anak kita sudah mengungkapkan ekspresinya, barulah setelah anak kita selesai, kita yang menambahkan, seperti “iya dok, kira kira sejak dua hari yang lalu, awalnya badannya demam, lalu hari ini ditambah perutnya yang sakit,…..” dan seterusnya


  • Latihan tanggung jawab dalam mengelola uang.
Sekali kali cobalah melatih anak kita dan biarkan anak kita bertransaksi sendiri. Jika di rumah kita dekat dengan swalayan, cobalah diskusikan kebutuhan hari ini apa yang mau dibeli, kasih kesempatan anak untuk membuat cek list barang yang akan dibeli. Berilah ia uang yang kira kira lebih dari harga barang barang tersebut. 


Cobalah lihat setelah ia sampai di rumah, apakah barang barang yang dibeli sama dengan yang terdapat di cek list? Apakah uang sisa masih utuh? Apakah ia balik lagi ke rumah meminta tambahan uang dan berkata,”ummi uangnya gak cukup soalnya saya beli ice cream sama jajanan ini tadi”


Diskusilah dengan anak tentang tanggung jawab mengelola uang ini apapun hasil yang diperoleh setelah anak “diuji” dengan berbelanja sendiri ke swalayan. 


Demikianlah contoh sederhana untuk melatih kemerdekaan atau kebebasan beraktifitas, kemandirian, kepercayaan diri dan tanggung jawab pada anak. Semoga anak kita mempunyai sifat ini dan berteriak lantang, Inilah saya....