Tuesday, May 28, 2013

Penanganan krisis identitas pada anak

krisis-identitas-pada-anak
Saya pernah membaca tentang krisis identitas dan dampak yang ditimbulkannya. Ada beberapa cerita di mass media yang membuat saya menghela napas panjang, apalagi kalau bukan kenakalan remaja dan efek negatif lain.

 

Apa sih krisis identitas itu? Ada dua kata yang membangun hal ini yaitu krisis dan identitas. Krisis adalah keadaan yang sulit atau permasalahan sedangkan identitas adalah ciri ciri seseorang. Jadi dapat disimpulkan bahwa krisis identitas adalah suatu keadaan dimana seseorang berada dalam tahap mencari identitas dirinya. Atau dengan kata lain keadaan dimana seseorang mencari jati dirinya dan memikirkan siapa dirinya atau menjadi apa dirinya di masa depan. Umumnya kejadian ini dialami oleh anak yang menjelang remaja atau istilahnya ABG (anak baru gede).

Jika seseorang dapat melalui dengan baik proses pencarian identitasnya, maka Insya Allah akan lebih mudah dalam melangkah ke depan. Sebaliknya jika dalam proses ini tidak dapat dilalui dengan mulus, maka langkah ke depan bisa jadi akan tersendat kecuali orang yang diberi hidayah taufiq oleh Allah Ta'ala.

Apa saja usaha orang tua dalam penanganan krisis identitas anak?
1. Pertama dan utama adalah mendoakan anak.

Ini adalah hal paling utama, para nabi senantiasa berdoa untuk keturunannya, rasulullah pun mencontohkan hal ini. Mengenai doa untuk keturunan, banyak terdapat di dalam Alquran, contohnya Albaqarah: 128
dan AlFurqan: 74, dan masih banyak lagi ayat ayat yang menjelaskan tentang hal ini.
Doa sangat bermanfaat untuk keteguhan hati dan keshalihan anak. Mengapa? karena salah satu doa yang maqbul dan mustajab adalah doa orang tua untuk kebaikan anaknya. Silakan bertanya dalilnya tentang ini kepada ustadz, Insya Allah ada di dalam hadits nabi yang shahih.
Ajakan ini utamanya dikhususkan kepada saya sendiri, marilah kita mendoakan anak anak kita agar menjadi anak yang shalih diwaktu waktu mustajab dalam berdoa seperti ketika sujud, antara azan dan iqomah, ketika safar, di hari jumat, ketika turun hujan, dan yang lainnya.

2. Buatlah lingkungan yang kondusif bagi perkembangan anak.

Seperti yang sudah kita baca di buku atau seminar parenting, bahwa faktor dominan yang mempengaruhi identitas anak adalah orang tua, teman, dan tokoh idola. Tidak menutup kemungkinan ada faktor lain.
Saya hanya memfokuskan tiga hal di atas, saya akan mendokumentasikan hasil yang saya baca satu persatu di blog ini. Pertama dimulai dari orang tua.

Salah satu ikhtiar orang tua yang bisa dilakukan adalah:
a. Tanamkan orientasi atau tujuan hidup
b. Tanamkan segala hal yang menyangkut tentang visi seorang muslim
c. Tanamkan juga hal lain seperti orientasi keluarga, orientasi studi, dan lainnya.

Caranya antara lain adalah:
Dengan menceritakan kisah nyata para nabi, sahabat nabi, tabi'in, tabi'it tabi'in, dan generasi pendahulu ummat yang merupakan generasi terbaik ummat ini.

Melalui penanaman dengan story telling ini, Insya Allah anak akan belajar dari kisah hidup mereka, tujuan hidup mereka yang mengutamakan akhirat, amal ibadah mereka, respon mereka ketika menghadapi masalah, bagaimana taubat mereka ketika suatu saat tergelincir di lubang kesalahan, dan seterusnya.
Insya Allah dengan terus menerus ditanamkan mengenai kepribadian dan akhlak mereka, mereka akan menjadikan generasi terbaik ummat ini sebagai idola. Mereka akan paham kehidupan keseharian generasi salaf yang shalih terdahulu dan bagaimana akhir hidupnya yang berakhir dengan keadaan baik.

Itulah idola yang harus ditiru amalnya, sikap hidupnya, sehingga sang anak berusaha dan berdoa agar akhir hidupnya dalam keadaan yang baik seperti mereka.

Yang kedua adalah teman. Tidak dipungkiri bahwa teman dapat mewarnai kehidupan anak. Saya ingat pada suatu kajian saat ustadz menjelaskan tentang teman, ada makna hadits sebagai berikut “Seseorang yang berteman dengan orang sholih dan orang yang jelek adalah bagaikan berteman dengan pemilik minyak wangi dan pandai besi. Jika engkau tidak dihadiahkan minyak wangi olehnya, engkau bisa membeli darinya atau minimal dapat baunya. Adapun berteman dengan pandai besi, jika engkau tidak mendapati badan atau pakaianmu hangus terbakar, minimal engkau dapat baunya yang tidak enak.”

Ada lagi makna dari hadits "Seseorang akan mencocoki kebiasaan teman karibnya. Oleh karenanya, perhatikanlah siapa yang akan menjadi teman karib kalian"
(untuk makna dari hadits di atas, jika ingin mengetahui matan aslinya dan siapa periwayatnya silakan bertanya ke ahli ilmu)

 

Pernah juga saya membaca syair yang kurang lebih isinya "Tidak perlu engkau bertanya tentang seseorang, namun tanyalah siapa temannya oleh karena setiap teman (cenderung) meniru temannya"

 

Oleh karena itu, orang tua yang baik adalah yang memilihkan teman bagi anak anaknya, atau memantau dengan siapa anak berteman serta mengajarkan kepada anak agar selektif memilih teman.

 

Yang ketiga adalah idola. Hal ini sudah disinggung pada point pertama yaitu dengan mengenalkan anak dengan generasi pendahulu mereka, setelah itu dorong mereka agar mencontoh nabi sebagai uswah dan generasi salaf yang shalih.

Semoga kita dikaruniai anak yang shalih yang berbakti kepada orang tuanya. Aamiin..