Saturday, December 28, 2013

Pengalaman menjadi guru

Mencoba sesuatu yang baru (baca: hal yang positif) adalah hal yang menyenangkan. Hal itulah yang coba saya terapkan pada aktifitas pembelajaran dengan anak anak. Sesuatu yang sebenarnya bukan hal baru, tapi kami coba untuk mengaplikasikannya dikeseharian. Pertama kali mempraktekkannya, peran saya adalah si pemberi pertanyaan dan anak anak menjawabnya, lalu saya yang memeriksa jawaban dan menilainya. Kali ini saya melakukannya dengan sedikit metoda yang berbeda. 

Sekarang, saya tugaskan Azka memberi pertanyaan kepada Ghayda dan sebaliknya. Mereka juga bertanggung jawab memeriksa jawaban dan menilai. Kemudian, saya arahkan mereka untuk berdiskusi mengenai materi apa yang akan menjadi pertanyaan pada quiz. Lalu saya informasikan bagaimana cara penilaiannya. Setelah itu saya bebaskan mereka tentang tipe soalnya apakah pilihan ganda atau isian atau essay. Terakhir, saya akan mengamati aktifitas mereka dan proses mereka beradaptasi. 

Alhamdulillah, proses diskusi berjalan lancar dan akhirnya mereka masing masing membuat soal dari bahan atau materi yang mereka sepakati. Ternyata mereka masing masing membuat lima soal. Masing masing sudah menjawab pertanyaan dan juga memeriksa dan memberi nilai pada quiz yang mereka buat. 

Manfaat yang didapat dari aktifitas ini adalah:

- Melatih mereka berdiskusi dengan baik dan melatih mengambil keputusan.

- Dapat menanamkan kecintaan kepada ilmu.

- Melatih tanggung jawab, yaitu membuat soal dan menilainya.

- Melatih bagaimana menjadi pendidik atau guru atau pengajar yang salah satu aktifitasnya adalah membuat ujian dan menilainya.

- Melatih untuk berjuang menjadi yang terbaik.

- Melatih kerjasama dan bekerja dalam tim.

- Memupuk kejujuran.

Dan masih banyak lagi buah yang dipetik dari pohon aktifitas ini.

Monday, December 23, 2013

Membuat website portfolio dengan mudah

Kali ini saya dokumentasikan aktifitas kami mengisi liburan pada hari jumat dan sabtu kemarin. Setelah mendapatkan informasi mengenai mudahnya membuat website yang hanya satu halaman saja, saya penasaran ingin mencoba. Di pagi itu setelah sarapan dan silaturahim dengan orang tua nun jauh di kampung halaman via telepon, maka saya ambil notebook dan mencoba mengotak-atiknya. Dan ternyata memang mudah, Alhamdulillah. Tak perlu waktu lama untuk menyelesaikannya, terima kasih kepada tim strikingly.com saya sampaikan karena telah membuat yang versi gratisnya untuk saya coba.

Sebagaimana kita ketahui bersama, sifat anak anak itu adalah ingin tahu dan penasaran dalam sesuatu hal yang baru. Mungkin melihat saya duduk diam dan nampak asyik 'mengoprek' apa yang ada layar monitor, Ghayda dan Azka pun mendekat. Akhirnya mereka malah asyik memperhatikan saya yang sibuk memainkan sepuluh jari di keyboard lalu berpindah ke mouse dan seterusnya. 

Setelah saya menyelesaikan 'project' ini, saya mempresentasikannya kepada anak anak. Mereka nampak tertarik. Sepuluh detik kemudian saya mendapatkan ide. Hati saya berteriak,"Aha... bagaimana kalau saya mengajarkan hal ini kepada mereka". Akhirnya saya bertanya kepada mereka,"Mau buat site ini juga?". Jawabannya mudah saya tebak. Dari body languagenya ketika mereka memperhatikan monitor saja saya sudah tahu bahwa jawabannya adalah "mauuuuuuu".

Akhirnya saya memberikan overview singkat kepada mereka dan sedikit menguji mereka dengan jargon IT yang ada di web itu seperti edit, upload, add, dan seterusnya. Nampaknya mereka sudah paham, sehingga proses transfer ilmu berjalan lancar. Dan akhirnya, waktu yang ditunggu telah tiba. Saya bebaskan mereka untuk membuat portfolio page mereka masing masing. Mereka nampak semangat dalam kegiatan ini.

Dengan sabar saya menunggu hasil kreatifitas mereka, dan tibalah saat mereka menunjukkan karya mereka. Alhamdulillah, dengan senyum puas saya mengacungkan dua jempol kepada mereka berdua. Ini adalah salah satu tanda bahwa transfer ilmu telah berjalan.

Ohya, sampai lupa menginfokan, silakan berkunjung di site saya http://strikingly.com/learningwithabiandummi



Sunday, December 15, 2013

Aktifitas baru (namun lama) - dan nilai nilai yang ditanamkan


Sebenarnya aktifitas pembelajaran ini tergolong sudah lama kami implementasikan, akan tetapi karena kadangkala terhenti oleh sebab tertentu (seperti sit in di sekolah sewaktu liburan musim panas kemarin) maka aktifitas ini seperti hal yang baru bagi kami.

Aktifitas ini adalah quiz dimana saya akan memberikan beberapa pertanyaan dan setiap pertanyaan yang benar akan diberikan point, setelah mengumpulkan sejumlah point, mereka akan diberi reward.

Pertanyaannya dapat berupa pengetahuan agama seperti Tauhid, aqidah, siroh, dan lain lain atau bahasa Inggris , bahasa arab, dan yang lainnya. Sedang asyik asyiknya saya melakukan kegiatan menyenangkan ini, datang kabar bahwa saya harus menghadiri training ke negara tetangga. Saya memutar otak agar bagaimana kegiatan ini tidak terhenti lagi. Akhirnya, lagi lagi saya melakukan aktifitas baru (namun lama) yaitu memberikan pertanyaan online yaitu fasilitas gratis yang disediakan google. Salah satu google apps yang saya gunakan adalah form (ada di dalam paket google docs, kalau tidak salah saya pernah posting tentang hal ini dalam tulisan sebelumnya, silakan saja searching).

Walhasil, kemarin dan hari ini, walaupun saya berbeda jarak dengan si buah hati, saya tetap melakukan aktifitas pembelajaran dengan gembira. Ini adalah salah satu screenshoot form yang saya buat untuk quiz, yaitu quiz siroh sahabat nabi dan english.

contoh-pertanyaan-quiz-siroh-english-buat-anak

Dan inilah adalah contoh screenschoot response atau jawaban dari anak anak yang otomatis tampil dalam bentuk spreadsheet di google docs.

contoh-quiz-jawaban-bahasa-inggris

Nilai nilai yang saya tanam dalam aktifitas pembelajaran ini adalah:


- Agar anak anak mencintai ilmu. 
Alhamdulillah, sejak diaktifkan kembali quiz ini, mereka semangat untuk membaca dan mengulang-ulang pelajarannya.



- Mendidik dan melatih anak jujur.
Saya sarankan untuk jujur dalam menjawab, tidak mencontek, tidak bekerjasama dalam menjawab.



- Berusaha menjadi yang terbaik.
Mereka nampak bersemangat dan saling berlomba dan berkompetisi untuk mendapatkan nilai yang terbaik.



- Menerima dengan jiwa ksatria apapun hasil yang mereka peroleh.
Kadangkala ketika adiknya lebih dahulu mendapatkan point, si kakak nampak dari bahasa tubuhnya menerima dengan sabar hasilnya, begitu juga sebaliknya.



- Melatih untuk berjuang, berkorban, dan berusaha untuk mendapatkan sesuatu.
Dengan adanya reward yang akan saya berikan jika anak anak sudah mengumpulkan point tertentu, melatih mereka untuk berjuang mendapatkan point, melatih mereka berusaha semaksimal mungkin untuk mendapatkan sesuatu yang mereka inginkan.



- Mendidik mereka meminta pertolongan kepada Allah Ta’ala.
Disela sela kegiatan menyenangkan ini, tak bosan bosannya saya mengingatkan mereka agar tidak menyandarkan kepada usaha mereka saja, akan tetapi bergantunglah kepada Allah Ta’ala, berdoalah kepadaNya dan meminta pertolongan dariNya sehingga dimudahkan dalam mengerjakan segala sesuatunya.


Itu saja aktifitas yang dapat saya dokumentasikan hari ini, sebab saya mau bikin soal lagi nih, anak anak sudah menagih via skype, “abi kapan quiz lagi……???”

Thursday, December 12, 2013

Waktu

orang-yang-menyesal-di-akhirat
 
Waktu berlari cepat. Dia tidak akan menunggumu yang tetap duduk santai di kursi kemalasan. Dia tidak akan kembali ketika perasaan menyesal menghinggapi dirimu karena tidak melakukan hal yang bermanfaat. Begitu pentingnya dia sehingga Allah Ta'ala bersumpah dengannya di dalam surat Al-Ashr. Oleh karenanya generasi terbaik ummat ini begitu memanfaatkan dia dengan mengisinya dengan hal hal yang bermanfaat untuk kehidupan dunia dan kehidupan akhirat nanti.
 
Itulah ujaran hati ketika saya dan keluarga telah menikmati dua kali musim dingin di negeri seberang. Rasanya baru kemarin, ketika saya melihat sikecil menggigil kedinginan ketika kami bermain di sebuah taman nan elok pada suatu sore ba'da Ashar. Ternyata, hari ini kami menikmati musim dingin kembali di tempat yang sama dengan suasana yang agak berbeda. Iya, berbeda.. Sebab si kecil sudah bisa berbicara yang kami mengerti artinya, si sulung sudah mulai mendekati masa masa penting dalam hidupnya. Jika dia dapat melewati masa itu dengan baik, Insya Allah dia dapat melangkah ke tahapan selanjutnya. Oleh karena itu, pada masa ini saya harus memanfaatkannya dengan menanamkan aqidah dan menghujamkan hal yang penting ke dalam hatinya. Tentu saja saya tidak bergantung hanya kepada ikhtiar saya dalam mendidiknya, akan tetapi bergantung kepada Allah Yang Maha Pemberi Petunjuk. Hal lain yang penting dalam kesuksesan pendidikan anak adalah keshalihan orang tua dan senantiasa mendoakan anak agar selamat dunia dan akhirat.
 
Senyum adalah ekspresi saya ketika itu. Ketika si sulung yang baru saja usai mengerjakan ujian akhir kelas empatnya, tiba tiba bertanya tentang haidh dan segala pernak perniknya. Akhirnya kita membahas tentang tata cara mandi wajib jika haidh sudah bersih, tentang orang yang sudah baligh, mengenai orang yang baligh dia akan mulai terkena beban ketentuan syariat (mukallaf). Disambung dengan sedikit nasihat tentang kehidupan ketika beliau sudah tinggal jauh dari orang tua kelak. Hmmm... setelah bercengkrama dengannya, saya merebahkan diri, lagi lagi berujar dalam hati, rasanya baru kemarin mengganti popok dan menggendongnya....
 
Roda kehidupan terus berputar, dan akan terus berputar sampai akhirnya diwafatkan oleh Allah Ta'ala. Pertanyaannya apakah disaat itu kita termasuk golongan orang yang menyesal atau golongan orang yang selamat? Jika memilih berada di jalan golongan orang yang selamat, marilah kita sama sama memanfaatkan waktu dan mengisinya dengan hal yang bermanfaat untuk kehidupan akhirat kelak.
 
Semoga kita tidak termasuk kedalam orang orang yang menyesal, seperti yang Allah Ta'ala firmankan di dalam surat Al-Munafiqun ayat 10-11 di atas.

Friday, December 6, 2013

Sekolah istimewa adalah di rumah

Di bawah ini adalah resume dari kajian Ustadz Abdullah Zaen di http://www.radiorodja.com/fiqih-pendidikan-anak-ke-18-rumah-adalah-sekolah-istimewa-untuk-anak-ustadz-abdullah-zaen-m/

Syarat agar rumah menjadi tempat pendidikan yang terbaik bagi anak anak adalah:

1. Ciptakan suasana agar terjadi interaksi yang berkuantitas dan berkualitas.

2. Orang tua agar menjadi teladan bagi anak anaknya.

3. Nasehat dilakukan di dalam rumah, jangan di hadapan umum.

4. Adanya pengawasan yang kontinyu kepada anak ketika anak di rumah.

5. Ketika anak keluar rumah serahkan kepada Allah dengan mendoakannya agar dijaga Allah dari perbuatan buruk dan diberikan keselamatan.