Monday, May 27, 2013

Tips bagaimana mengatasi rumah berantakan akibat aktifitas anak

tips-membereskan-rumah-berantakan
Pernahkah anda menjumpai rumah dalam keadaan berantakan ibarat kapal pecah? Pergi ke ruang tamu, pemandangan yang tampak adalah mainan anak anak berserakan, tidak hanya itu, bahkan tumpahan cat air, kertas bekas guntingan tampak di sana. Lalu mengunjungi ruang tengah yang anda kira selamat dari suasana berantakan, ternyata keadaannya pun tidak kalah hebatnya. Dan hal ini membuat sebagian orang tua yang tidak mempunyai asisten di rumahnya akan merasa pusing tujuh keliling.

Jangan biarkan stress menghampiri anda saat menjumpai hal di atas. Justru orang tua seharusnya harus lebih kreatif berpikir bagaimana cara memecahkan permasalahan ini dan keluar dengan selamat dari peristiwa ini. Capek adalah hal biasa, yang luar biasa adalah dapat mengubah keadaan ini menjadi keadaan lebih baik lagi (motivator mode ON.. hehe).

Jadi bagaimana solusinya? Ada banyak solusinya, anda dapat searching di mesin pencari. Saya sudah menulis pada artikel sebelumnya tips mencari informasi di Google. Insya Allah anda dapat menemukan berbagai macam cara dari A sampai Z.

Di blog ini, saya mendokumentasikan berdasarkan apa apa yang sudah saya praktekkan di rumah. Untuk melaksanakan hal ini diperlukan waktu dan kesabaran, dalam arti tidak seperti tukang sulap yang berkata sim salabim lalu keluarlah kelinci dari topi hitamnya. Praktek ini memerlukan proses yang tidak sebentar.

Langkah yang telah saya praktekkan untuk membereskan rumah yang berantakan akibat aktifitas anak anak adalah:

1.Menanamkan kesadaran kepada anak anak hal hal di bawah ini:
- Jika sudah selesai bermain, maka mainannya harus diletakkan kembali di tempat semula.
- Sisa sisa dari aktifitas pembelajaran, seperti guntingan kertas, bekas air, lem, dan yang lainnya harus dibersihkan.

Pengalaman:

Alhamdulillah, anak anak sekali waktu dapat melakukan hal di atas dengan baik. Akan tetapi, ada kalanya mereka kembali ke kebiasaan semula. Disini harus banyak bersabar dan berdoa agar usaha kita berhasil. Pernah ketika pulang dari TPA, salah satu dari mereka langsung saja melempar tasnya ketika baru masuk rumah. Bagaimana reaksi saya melihat itu? Saya pegang tangannya, saya tuntun dia ke tempat dia melempar tas, lalu berkata dengan baik dan jelas, "ayo kita sama sama taruh tas ini di kamar".

Alhamdulillah, walau tampaknya dia berat hati, tapi akhirnya mau mengambil tas dan meletakkan tas dikamarnya.

Langkah satu ini memerlukan waktu dan pembiasaan yang terus menerus agar dapat menjadi habit atau kebiasaan. Oleh karena itu, saya masih mencari cara lagi, sebab ketika anak anak kembali ke kebiasaan semula, pemandangan berantakan kembali nampak di depan mata. Akhirnya saya menemukan cara di bawah ini disamping terus mempraktekkan cara ini.

2.Sediakan satu ruangan khusus untuk mereka beraktifitas bebas.
Setelah berproses dengan langkah nomor satu, maka saya membuat satu ruangan khusus dimana mereka bisa bermain apa saja, membuat apa saja, melukis dan mewarnai, belajar, bongkar pasang, loncat loncat, percobaan atau eksperimen sesuatu, pokoknya apa saja yang mereka kerjakan dengan seru di sini.

Walhasil, setelah mengorbankan satu ruangan ini, Alhamdulillah hasilnya rumah tetap berantakan. Hehehe. Akan tetapi, lokasinya terpusat di satu ruangan saja, dalam arti ruang tamu, ruang tengah, kamar anak anak tetap terjaga dan rapi. Jika ada indikasi mereka mau melakukan aktifitas di luar ruangan ini, maka kami punya pilihan, kami ajak main ke ruang atas (ruang terbuka) atau kami ajak lagi masuk ke ruangan khusus ini. Pilihan ini bertujuan agar menghindari kebosanan anak anak sehingga terdapat variasi tempat beraktifitas.

Setelah itu, kami (baca: abi, ummi, dan anak anak) jadinya fokus untuk membereskan ruangan itu saja. Hasilnya, waktu beres beres jadi lebih cepat karena sebelumnya kami harus beres beres ruang tamu, dapur, ruang tengah, dan kamar dan sekarang yang kami rapikan hanya disatu ruangan.

Pengalaman:

Setelah menerapkan dua hal di atas, rumah kami masih berantakan. Akan tetapi, Alhamdulillah ada kemajuan sedikit demi sedikit dalam arti pemandangannya sudah tidak seperti kapal pecah lagi, melainkan sudah agak mendingan kelihatannya.. Hehehehe.. Yah begitulah beraktifitas bersama empat anak yang sedang aktif aktifnya dan menerapkan homeschooling.

Seperti yang sudah saya terangkan di atas, perlu waktu dan kesabaran serta sikap persistent (maaf saya nulis dalam bahasa Inggris, diIndonesiakan apa ya? mungkin disiplin atau usaha terus menerus kali ya?). Itulah cerita atau dokumentasi kegiatan di rumah kami. Bagaimana dengan anda? Siapa tahu punya pengalaman lain, mohon untuk sharing pada comment di bawah, siapa tahu kami bisa terapkan di rumah.