Thursday, February 21, 2013

Karena setiap anak unik-bagaimana berinteraksi dengan mereka

Ada anak yang mampu belajar secara mandiri sejak dini dalam arti untuk belajar akademis atau mempertajam skill seperti kemampuan menulis, mengetik 10 jari, dan seterusnya mereka lakukan atas inisiatif sendiri tanpa disuruh. Akan tetapi ada pula anak yang baru mau belajar jika didampingi oleh orang tua, dijelaskan dari A sampai Z, sampai mereka selesai belajar.
Ada anak yang mempunyai kemampuan hapalan yang sangat baik, jika mereka membaca sendiri dengan keras, mereka hapal dan mampu mengulang dan menjawab dengan baik jika diuji. Ada pula anak yang harus mengulang-ulang bacaan sampai 10 kali barulah bacaan itu menancap di benak mereka.
Jika saya lanjutkan dengan contoh yang lain, niscaya tidak akan habis satu halaman karena banyaknya contoh dalam keseharian kita yang menggambarkan bahwa setiap anak itu berbeda. Oleh karena setiap anak unik, maka berbeda pulalah seharusnya perlakuan dan interaksi orang tua dengan mereka.
Saya yakin, pembaca blog ini adalah orang tua yang ingin hal yang terbaik bagi anaknya dan sering menghadiri seminar parenting atau membaca buku mengenai pendidikan anak. Saya hanya mencatat informasi yang telah saya dapatkan bagaimana cara berinteraksi dengan setiap anak, jika anda ingin menambahkan di komentar tentang studi kasus dan penanganannya, saya akan sangat senang sehingga ada ilmu baru yang dapat saya terapkan jika cocok dengan kondisi kami.
Inilah salah satu catatan informasi dari berbagai sumber yang saya masih ingat bagaimana interaksi dengan masing masing anak:
Didalam melakukan aktifitas pembelajaran bersama anak, dan kita menemukan bahwa anak itu dalam aktifitasnya aktif bergerak, biasanya kita terganggu dengan tidak bisa diamnya anak. Mungkin penjelasan kita sebagian terpotong ketika tiba tiba sang anak mengalihkan pandangan ke luar atau bahkan berlari untuk mengambil sepotong kue di lemari es. Menghadapi situasi ini, sebaiknya kita tidak berkata,”aduh, kamu ini tidak bisa diam, contoh dong kakakmu, kalo belajar diam dan memperhatikan penuh apa yang ummi terangkan”

 Kita harus menyadari bahwa tipe belajar yang dominan pada anak berbeda beda, jangan cepat mengambil kesimpulan bahwa anak kita yang satu itu pemalas. Justru orang tualah yang harus introspeksi apakah cara dia mengajar monoton atau membosankan. Atau mungkin saja sang anak dominan tipe kinestetik, sehingga kita harus menciptakan atmosfir belajar yang “seru” bagi sang anak.

 Contoh yang dapat anda coba: Persiapkan materi pelajaran yang akan diajarkan sebaik mungkin. Ajak anak ke taman dekat rumah (atau kemana saja yang mudah dituju dan si anak suka dengannya). Sambil berjalan, pegang tangannya atau sentuh dengan perasaan sayang, mulai percakapan pembukaan (tentang apa saja), masuk pelan pelan ke materi yang akan diajar. Sambil berjalan, ajak anak kita berbicara dua arah (tanya jawab) mengenai materi. Sesekali duduk istirahat, atau makan snack. Lanjutkan lagi dengan melihat kondisi apakah si anak masih enjoy atau tidak. Usahakan materi tersebut di link (disambungkan) dengan kondisi nyata di kehidupan, sehingga anak anak merasa tertarik untuk menyelami percakapan anda.