Monday, December 24, 2012

Contoh praktik empati kepada anak

Saya mengetahui kata empati sejak zaman kuliah dahulu melalui buku buku pengembangan diri. Sekarang pun kata ini sering kita jumpai dan dengar melalui para pakar parenting pada seminar seminar parenting. Saya tidak berpanjang lebar mengupas tentang definisi parenting dan uraian lebih dalam mengenai hal ini, tapi langsung kepada penerapan empati ini dalam pendidikan anak.

Contoh praktek kalimat empati


Contoh 1:
Langsung saja, biasanya kita (baca: saya), memberi respon ketika anak kesulitan melakukan sesuatu dengan berkata,”yah, gitu aja kok gak bisa?” atau ketika anak ketakutan terhadap sesuatu,”payah, gitu aja takut, berani dong....” Dan ribuan contoh lain pada kehidupan sehari hari ketika berinteraksi dengan anak kita.

Alih alih berkata dengan nada yang telah disebutkan di atas, lebih baik kita ganti dengan kalimat empati. Contohnya ketika anak terjatuh, kita lihat dengkulnya berdarah, apa yang harus kita lakukan selain berkata,”waduh, gimana sih, makanya jangan lari lari, sudah dibilangin, nah sekarang jatuh kan.... ya udah, diam....”. Yang harus kita lakukan adalah, pertama tama kita dekati anak itu, lalu berkata,”sakit ya nak?, ummi tahu kamu sakit. Adalah wajar kalo anak anak nangis seperti kamu, tapi nangisnya jangan lama lama ya, baca doa saja supaya kuat , jadi tidak sakit lagi. Ummi percaya setelah ini, kamu lebih hati hati kalo berlari”.

Contoh 2:
Alhamdulillah, saya telah mempraktikkan waktu si Ahmad terlihat ketakutan berdiri di dekat unta. Saya perhatikan kedua kakaknya enjoy enjoy saja berdiri di dekat unta, mereka bahkan mengambil foto unta dengan hape abi nya. Akan tetapi saya perhatikan si Ahmad tampak ingin menjauh, ketika saya tanya mengapa kok malah menjauh, spontan dia menjawab,”takut”... 

Di dalam hati saya berkata, “nah inilah kesempatan mempraktikkan ilmu empati....” Setelah itu saya bertanya kepadanya,”Ahmad takut ya sama unta?” dijawab langsung oleh beliau,”iya”. Lalu saya tersenyum, saya lebih mendekat kepadanya, saya pegang tangannya, dan berkata,”wajar kok kalo anak anak takut sama hewan yang pertama kali ditemui”. Lalu saya tambah,”akan tetapi, unta itu binatang jinak, tuh kan ada pawangnya, nah tuh lihat anak itu menaiki punggungnya, itu buktinya unta itu binatang jinak, Insya Allah tidak makan atau mencakar Ahmad”. 

Memang perlu waktu untuk memahamkan pemahaman tentang hal di atas, jadi saya tidak memaksanya. Waktu berlalu, kami pun singgah ke tempat lain dan bermain di area permainan sampai akhirnya tiba waktu pulang.  Ketika kami melewati tempat unta itu, mata saya berbinar dan senyumpun melebar ketika tiba tiba si Ahmad berkata,”Ahmad sekarang berani sama unta, tuh kan sekarang deket sama unta”.. Alhamdulillah....

Mudah mudahan kita konsisten untuk menerapkan empati ke anak anak kita. Aamiin...


Catatan terkait:
Contoh kalimat dan sikap empati