Wednesday, November 28, 2012

Tingkatan aktifitas belajar

Sebagai guru, tentunya anda ingin menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan penuh petualangan. Ada beberapa tahap pembelajaran yang membuat anak asyik dalam menekuni sesuatu.
tingkatan-belajar
Tahap pertama: sebagai guru, langkah pertama yang harus anda lakukan adalah memperkenalkan teori kepada anak didik sehingga mereka dapat menghapalnya.
Tahap kedua: Langkah itu belum cukup. Anda juga harus menyertakan contoh (kalau bisa dari kejadian nyata agar pembelajaran itu kontekstual) sehingga mereka tidak hanya mendengar tapi dapat melihat dan merasakan sehingga mereka akan lebih mengingat teori dengan melihat dan merasakan aplikasinya di dunia nyata.
Tahap ketiga: Ternyata langkah di atas belum cukup untuk membuat anak bergairah mempelajari sesuatu. Berikanlah sesuatu yang mereka bisa melakukan eksperimen dengannya. Akan tetapi, jangan memberitahu secara detail jalan pemecahannya, biarkan mereka melakukan investigasi dengan cara mereka dengan menggunakan teori yang sudah mereka hapal dan mengerti. Hal ini melatih dan merangsang keingintahuan mereka. Para ahli mengistilahkan hal ini adalah experiential learning.

Tahap keempat: Berikanlah permasalahan (contoh kasus di dunia nyata), doronglah anak untuk menyelesaikan problem itu, tentunya dengan fondasi teori teori yang sudah mereka kuasai, berikan kesempatan mereka lebih mengeksplorasi ilmu yang mereka dapatkan dan bebaskan mereka meneliti dengan metoda pendekatan mereka. Ini akan merangsang keterampilan memecahkan masalah.
 


Monday, November 26, 2012

Evaluasi setelah perjalanan selama 26 hari

perjalanan-homeschooling
Hari ini tepat 26 hari petualangan kami homeschooling. Yup, tepatnya 26 hari setelah kami tiba di perantauan dan langsung mengambil perahu dan berlayar bersama mengarungi lautan pembelajaran di universitas kehidupan.
Disamping belajar kurikulum diknas (karena anak anak rencananya akan ikut UAN), kami menanamkan juga sikap bertanggung jawab, disiplin, dan life skill lain. Kami sudah membuat jadwal kesepakatan yang sudah disetujui anak anak, yaitu chores list atau jadwal piket. Tujuannya adalah bekerja bersama sama, saling support diantara semua anggota keluarga.
Chores yang kami pilih adalah yang memang sesuai dengan kemampuan di usianya. Seperti meletakkan pakaian kotor ke mesin cuci, menjemur pakaian, merapikan sepatu di rak sepatu, merapikan kamar, membuang sampah di tempat sampah, dan seterusnya.
Pada awal kegiatan, anak anak begitu bersemangat. Akan tetapi setelah 26 hari ini, sepertinya sikap konsisten untuk mengerjakan tugas harian agak melemah. Kami berdiskusi dan sepertinya hal ini belum efektif berjalan. Biasalah anak anak, ketika ditanya,”kok bukunya ada disini? Memang tempatnya di mana seharusnya?” , mereka menjawab,”bukan saya yang ngeluarin, tuh si xxx yang naruh disitu” Dan seterusnya.
Kami sedang berpikir metoda yang efektif dan mencoba untuk menanamkan dibenak mereka akan keindahan, kebersihan, dan kerapihan rumah tempat tinggal. Mulai dari metoda bercerita, membacakan faidah dari Alquran dan hadits tentang kebersihan, dan terus menerus mengingatkan mereka.
Kami sedang berpikir untuk menanamkan motivasi kepadanya agar motivasi intrinsiknya (dari dalam dirinya) yang dominan agar melakukan hal ini dengan semangat dan niat yang benar.
Mudah mudahan perjalanan ini bisa dilewati… Aamiin…

Sunday, November 25, 2012

Simple design simple to use simple to maintain

Alhamdulillah, saya telah menemukan ebook mengenai perkembangan anak usia anak pra sekolah. Setelah sebelumnya saya mengalami kebingungan karena saking banyaknya kurikulum untuk si Ahmad yang kini berusia empat tahun, akhirnya kami menemukan hal yang simple.
Hal yang sederhana, yang jika kita implementasikan secara konsisten, Insya Allah akan menuai hasil yang optimal. Meminjam istilah asing, “simple design, simple to understand, simple to use, simple to maintain….”
Walhasil, kami akan fokus melakukan aktifitas pembelajaran berdasarkan cek list yang ada sesuai perkembangan usianya.
Contoh ceklist perkembangan untuk usia empat tahun:
-Can identify colors
-Can count objects
-Can identify geometric shapes
Dan seterusnya.
Nah dengan acuan cek list di atas, kami melakukan aktifitas pembelajaran untuk si Ahmad. Misalnya untuk mengidentifikasi warna, maka kami lakukan permainan dengan tema warna, apa saja, seperti yang sederhana yaitu: mewarnai, tebak warna, dan seterusnya.
Contoh lagi untuk usia empat tahun adalah dapat menghitung objek. Hal ini paling disukai oleh Ahmad, beliau suka sekali menghitung jumlah mobil mobilannya. Alhamdulillah, beliau dapat menghitung dengan lancar dari 1 sampai 20.

Thursday, November 1, 2012

Belajar matematika dengan bercerita

Usia 6 tahun dapat dikatakan usia mereka yang memiliki imaginasi yang tinggi. Oleh karena itu, salah satu metoda pembelajaran yang bisa dipraktekkan kepada mereka adalah metoda bercerita.

Pelajaran matematikapun saya coba dengan pendekatan bercerita. Tapi bukan saya yang bercerita. Biarkan saya jelaskan dengan detail. Jadi begini, setelah Azka sudah menerima pelajaran tentang operasi dasar aritmetika (penambahan, pengurangan, dan seterusnya), saya minta dia untuk mempresentasikan konsep yang sudah dia mengerti ke saya. Artinya dia akan menceritakan apa yang sudah dia pelajari ke saya. Nah, untuk mempermudah dia menceritakan konsep tersebut, dia berinisiatif menuliskannya di selembar kertas. Ini adalah portfolio si Azka yang saya dokumentasikan. 

Adapun beberapa faidah mempresentasikan apa yang sudah dipelajarinya adalah:


-          Dengan dia bercerita diharapkan semakin kuat pemahamannya.
-          Melatih keterampilan berkomunikasi melalui presentasi singkat.
-          Menambah kepercayaan diri.
-          Melatih kebiasaan sharing ilmu dengan orang lain dengan kalimat yang runtut.
-          Mengasah kreatifitas (untuk membuat kalimat, gambar, grafik, bagan yang sesuai dengan konteks bahasan)

Contoh portfolio presentasi Azka:

belajar matematika dengan bercerita

Belajar menulis dengan fun

Kemarin saya sudah menceritakan pengalaman bermain sambil belajar. Juga dijelaskan bahwa untuk usia TK, jangan dipaksakan untuk diajarkan calistung secara sempurna. Tunggu sampai si anak puas bermain dan siap mental untuk menerima pelajaran tersebut. Silakan membaca ada pembelajaran dalam bermain bola.

Sebenarnya sikap saya ditengah tengah, dalam arti saya tidak mengeliminasi total kegiatan calistung. Kadang kadang si Ahmad demi melihat kakaknya melakukan aktifitas menulis dan membaca, dia tertarik untuk ikutan. Ketika kakaknya menulis untuk sebuah presentasi yang ditujukan untuk abinya, Ahmad minta diambilkan kertas dan bulpen. Dia bilang,”abi, Ahmad mau nulis nulis juga”. Oleh karena ini maunya si anak, maka tak saya sia siakan kesempatan ini untuk melatih motoriknya dengan menulis dan menggambar.

Saya perhatikan, Ahmad sudah bisa melukis garis lurus, lingkaran, segi tiga, dan segi empat. Dia juga sudah mengerti kenapa disebut segi tiga. Ketika ditanyakan hal tersebut, dia langsung menandai sudut sudut dan menghitung sampai tiga.  Alhamdulillah, aktifitas ini berjalan dengan lancar.

Mulailah saatnya mengenalkan dengan huruf, setelah saya cermati Ahmad sudah mulai hapal beberapa huruf. Saya tidak paksa dia untuk hapal huruf A sampai Z. Biarlah hapal secara natural saja melalui permainan. Lalu tibalah saatnya saya instruksikan dia untuk mencontoh tulisan saya. Menulis ini sambil saya baca, sehingga disamping menulis, dia tahu apa bacaannya.

Lihatlah gambar di bawah, worksheet yang saya bikin manual, untuk menulis BA. Belum habis semua kolom terisi, Ahmad minta bermain game balapan mobil di tablet. hehehe

motorik menulis



Dia sudah menulis BA, BI , BU, BE, BO. Aktifitas ini dilakukan bertahap, bukan sekaligus. Ketika Ahmad bosan dengan kegiatan ini, saya biarkan dia bermain dengan permainan yang lain. Sampai akhirnya dia menyelesaikan semua worksheet menulis ini dengan kemauan dia sendiri (tidak saya paksa)